Hindari Kesombongan dalam Berkurban, Ini Cara Menjaga Niat Tetap Ikhlas
Ilustrasi
Berkurban merupakan ibadah yang dianjurkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus berbagi dengan sesama.
Namun, umat Islam diimbau untuk mewaspadai munculnya sikap sombong, baik yang disadari maupun tidak disadari, agar pahala kurban tidak berkurang karena niat yang bercampur dengan riya
Jakarta, satudetik.online – Idul Adha identik dengan ibadah kurban. Bagi yang mampu, menyembelih hewan kurban menjadi wujud syukur sekaligus kepedulian sosial.
Akan tetapi, sifat kemanusiaan yang senang dipuji sering kali membuat fokus ibadah bergeser dari ketakwaan menjadi gengsi sosial.
Kesombongan dalam berkurban bukan terletak pada hewannya, melainkan pada niat yang melatarbelakangi.
Ketika tujuan utama berubah menjadi “agar terlihat mampu”, “agar disebut dermawan”, atau “agar tidak malu dengan tetangga”, maka kesombongan mulai masuk ke dalam ibadah tersebut.
Mengapa Kesombongan Sering Muncul dalam Kurban
Pertama, ibadah kurban bersifat terbuka. Berbeda dengan zakat dan sedekah yang dapat dilakukan secara diam-diam.
Kurban melibatkan hewan besar, proses penyembelihan, dan pembagian daging sehingga lebih mudah terlihat oleh masyarakat.
Kedua, kemampuan berkurban sering dianggap sebagai tolok ukur keberhasilan ekonomi. Di beberapa daerah, hal ini menimbulkan tekanan sosial untuk menjaga gengsi.
Ketiga, pujian memberikan kepuasan psikologis. Tanpa disadari, seseorang dapat terdorong untuk mengulanginya setiap tahun agar mendapatkan pengakuan yang sama.
Tanda-tanda Kesombongan yang Perlu Diwaspadai
Sikap ini dapat dikenali melalui beberapa perilaku. Antara lain merasa tidak tenang apabila tahun ini tidak berkurban dengan hewan yang lebih besar dari tahun sebelumnya.
Senang menceritakan harga hewan kurban kepada orang lain, kecewa apabila tidak disebutkan namanya saat pembagian, serta kurang peduli kepada penerima selama acara terlihat meriah.
Tampil mengatur sana, mengatur sini dengan tujuan menunjukkan seolah sebagai orang yang berkuasa hanya karena turut berkurban.
Tinjauan Ulama Mengenai Niat dan Riya
Pandangan ketat menyatakan bahwa riya’ dapat menghapus pahala ibadah. Apabila niat sudah bercampur dengan pamer, maka yang tersisa hanyalah lelah dan pengeluaran materi.
Hal ini sejalan dengan peringatan dalam Al-Qur’an tentang orang yang beribadah karena ingin dilihat manusia.
Sementara itu, pandangan praktis menilai bahwa niat manusia memang kerap bercampur.
Selama niat awal tetap karena Allah, ibadah tetap sah, namun pahalanya berkurang sesuai kadar riya’ yang ada.
Dari sisi sosial, kurban yang meriah tetap bermanfaat bagi masyarakat yang jarang mengonsumsi daging.
Akan tetapi, manfaat tersebut tidak secara otomatis membersihkan niat di dalam hati pelakunya.
Langkah Mencegah Sifat Sombong dalam Berkurban
Agar ibadah tetap terjaga keikhlasannya, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan.
Pertama, luruskan niat sebelum menentukan hewan kurban. Tanyakan pada diri sendiri apakah tetap bersedia berkurban meskipun tidak ada yang mengetahui.
Kedua, pilih mekanisme kurban yang bersifat privat apabila memungkinkan. Saat ini banyak lembaga yang menerima titipan kurban tanpa publikasi nama maupun dokumentasi.
Ketiga, terlibat langsung dalam proses pembagian. Kegiatan di lapangan biasanya mengurangi dorongan untuk pamer karena perhatian lebih tertuju pada penerima manfaat.
Keempat, ingat bahwa Allah tidak membutuhkan daging kurban. Yang sampai kepada-Nya hanyalah ketakwaan, sedangkan dagingnya diperuntukkan bagi manusia.
Berkurban bagi orang yang mampu merupakan amal yang baik. Namun, nilai ibadah tersebut akan lebih sempurna apabila digunakan untuk memberi makan sesama, bukan untuk memberi makan ego.***
