• satudetik.online: cepat dan akurat • ekonomi global melonjak • teknologi baru seagma presence dirilis • timnas menang besar •
Pendidikan dan KesehatanSerba Serbi

Benarkah Konsumsi Daging Kurban Akibatkan Hipertensi?

PENULIS: Binar
EDITOR: Teja Ripta
12 jam yang lalu
10 VIEWS
Benarkah Konsumsi Daging Kurban Akibatkan Hipertensi?

Ilustrasi

satudetik.online -Saat ini sedang marak konsumsi daging segar. Maklum, saat perayaan Idul Adha hampir semua mendapatkan daging kurban.

Namun ada kekhawatiran bagi warga penderita hipertensi, karena daging segar mengakibatkan tekanan darah tinggi.

Benarkah konsumsi daging segar bisa mengakibatkan hipertensi atau darah tinggi?

Benar tidaknya pernyataan tersebut bergantung pada beberapa faktor, bukan hanya pada konsumsi daging kurban semata.

Berdasarkan hasil penelitian, konsumsi daging merah segar seperti daging sapi, kambing, dan domba tidak terbukti secara langsung menyebabkan hipertensi pada setiap individu.

Beberapa studi bahkan tidak menemukan hubungan sebab-akibat yang signifikan.

Produk daging olahan seperti sosis, kornet, dan dendeng memiliki kandungan natrium dan bahan pengawet yang tinggi.

Konsumsi produk ini dalam jumlah banyak dan sering dikaitkan dengan peningkatan risiko hipertensi.

Memasak daging dengan suhu tinggi hingga gosong, seperti dipanggang atau dibakar, dapat menghasilkan senyawa yang berpotensi meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.

Risiko meningkat apabila konsumsi daging berlebihan, disertai asupan garam dan lemak jenuh yang tinggi, serta minimnya konsumsi sayur, buah, dan aktivitas fisik.

Kesimpulannya daging kurban yang merupakan daging segar tidak serta-merta menyebabkan darah tinggi.

Yang perlu diperhatikan adalah porsi konsumsi, cara pengolahan, dan penggunaan garam serta santan. Jika dikonsumsi dalam jumlah wajar dan diolah dengan cara yang sehat, risikonya relatif rendah.

Berikut batas porsi konsumsi daging merah yang umumnya dianjurkan bagi penderita hipertensi:

1. Porsi per kali makan

Sekitar 70–100 gram daging matang, setara dengan ukuran telapak tangan tanpa jari atau satu potong daging sedang. Hindari mengonsumsi lebih dari 350–500 gram per minggu.

2. Frekuensi

Dianjurkan tidak lebih dari 2–3 kali per minggu. Pada hari lain, gantikan dengan sumber protein lain seperti ikan, ayam tanpa kulit, kacang-kacangan, atau tahu tempe.

3. Bagian daging

Pilih bagian yang rendah lemak, misalnya has dalam atau daging tanpa lemak. Hindari bagian berlemak, kulit, dan jeroan karena mengandung kolesterol dan lemak jenuh tinggi.

4. Cara pengolahan

Gunakan metode rebus, kukus, atau tumis dengan sedikit minyak. Batasi penggunaan garam, kecap asin, dan santan. Hindari memanggang hingga gosong.

Pedoman ini bersifat umum. Jika Anda memiliki kondisi kesehatan tertentu atau sedang mengonsumsi obat antihipertensi, sebaiknya konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi untuk penyesuaian yang sesuai dengan kondisi Anda.(Binar)