Njegideg", Karya Perupa Lumajang Dipamerkan"
Dengarkan narasi artikel ini secara otomatis
Cepat dan Akurat
satudetik.online • cepat dan akurat
Dengarkan narasi artikel ini secara otomatis
Ketua GEKRAFS Lumajang mengapresiasi karya.
Waktu baca sekitar 2 menit
Lumajang, satudetik.online - Belasan perupa Lumajang menggelar pameran seni rupa bersama bertajuk "Njegideg" di Rumah Kedua Kafe & Resto, Lumajang, mulai Sabtu, 12/9/2026 sampai dengan Sabtu, 19/9/2026.
"Njegideg" merupakan pameran seni yang menghadirkan sekitar 30 lukisan yang merefleksikan bentuk visual pengaruh energi penciptaan dan penggalian ide kreatif para perupa tentang diam atau energi itu sendiri.
Perupa yang berpameran, yakni A. W. Bayu Negoro, Almiera A. S., Antonius Dian, Arimbi, Aryo Subandy, Citra RSD., De Cire, Ferry Sinaro, Firnandi Sutikno, Ishfi Aisyina, Kapit Pitu, Murtisari Tuntas, Naurah Nazhifah, Neneng Triana, Rachel Ranesyah, Rizky Undersacred, Rudi Hartono, dan Tri Puji Yuwono, bersama-sama menghadirkan karya dalam pameran seni visual bertajuk "Njegideg" tersebut.
Para perupa menampilkan ekspresi visual dengan gayanya masing-masing yang merepresentasikan jiwa tiap seniman ataupun gagasan mereka tentang pengaruh "diam sejenak" atau njegideg dalam proses penciptaan karya.
Dr. Noer Aisyah Barlian, S.K.M., M.M., M.MT., yang juga merupakan Ketua GEKRAFS (Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional) Kabupaten Lumajang periode masa bakti 2026–2029, dalam sambutannya saat membuka pameran, mengungkapkan rasa syukur dengan diadakannya acara ini sebagai media menyelami waktu dan merasakan energi positif dari karya para perupa Lumajang.
Sementara itu, Ketua Panitia acara Rudi Hartono, S.Pd.Gr., mengatakan, "Njegideg" adalah sebuah power atau kekuatan batiniah para perupa yang dapat digunakan sebagai media untuk mensyukuri sebuah takdir lahiriah.
"Kemunculan ide atau gagasan tidak luput dari sebuah kesadaran bahwa laku diam sebagai penciptaan yang disebabkan oleh proses mental perupa tersebut. Inilah yang diistilahkan dengan njegideg, yang menjadi tema dari pameran ini," ujar Rudi.
Kapit Pitu, salah satu perupa yang memamerkan karyanya dengan judul "Silent Treatment", mencoba menyampaikan pesan tentang Narcissistic Personality Disorder yang dituangkan lewat lukisan dengan pewarnaan dinamis yang penuh makna.
Kapit berharap event ini dapat membuka kesempatan bagi khalayak penikmat seni untuk mengapresiasi karya para perupa Lumajang yang direfleksikan melalui karya kreatif mereka. (Ferry)
Beri reaksi singkat untuk artikel ini. Klik kembali untuk membatalkan.